Refleksi Transformatif “War on Drugs”
Selasa, 31 Maret 2015 | 10:47 WIB

 

War on Drugs2 War on Drugs

Bertempat di gedung mikael acara diskusi dan bedah buku yang diadakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata, acara yang berlangsung pada tanggal 25 Maret 2015 lalu, membedah buku yang berjudul “War on Drugs” dengan tema Refleksi Transformatif Penerapan Kebijakan Global Pemberantasan Narkoba di Indonesia.

Acara yang dimoderatori langsung oleh Algooth Putranto salah satu pengajar Ilmu komunikasi ini mendatangkan tiga pembicara yaitu Patri Handoyo selaku penulis buku “War on Drugs”, Yvonne Sibuea dari Lembaga Pelopor Perubahan dan yang terakhir adalah Gentry Amalo pemimpin Redaksi Napzaindonesia.com.

Pada sesi pertama – Yvonne Sibuea selaku pembicara pertama menyajikan sebuah video dokumenter mengenai seorang pengguna narkoba yang terdeteksi pengidap penyakit HIV/AIDS, dimana video diambil pada panti rehabilitasi. Video ini menceritakan ada seorang yang tergeletak dilantai dan petugas panti tersebut tidak ada yang berani mengangkatnya kembali ketempat tidur karena pasien tersebut sudah sangat parah kondisinya dan penuh dengan luka yang mengering, di bagian akhir video ditampilkan bahwa 3 hari setelah pengambilan gambar pasien tersebut meninggal. Beliau yang aktivis dari Lembaga Pelopor Perubahan ini juga menjelaskan bahwa masih kurangnya dana kesehatan yang diberikan pemerintah sehingga jika ada penghuni panti rehabilitasi yang sakit parah tidak langsung dapat ditangani oleh lembaga kesehatan.

Sesi kedua – Patri Handoyo menjelaskan mengenai apa isi buku yang beliau tulis. Pada awal karirnya beliau bekerja di sebuah panti rehabilitas narkoba dalam program mengurangi dampak buruk narkoba suntik yang mengakibatkan penularan HIV. Kurang lebih beliau bekerja dibidang tersebut membuatnya frustasi, hal ini dikarenakan ketika pengguna yang masuk rehabilitasi banyak sekali orang yang beliau kenal dan masuk lagi kerena menggunakan narkoba lagi.

Pada buku ini Patri Handoyo menjelaskan bahwa narkoba itu bukanlah setan yang harus diperangi melainkan sebagai komoditas. Karena memang narkoba sudah dikonsumsi oleh manusia sejak ribuan tahun lalu. Kemudian pada bagian tengah buku menjelaskan bagaimana memerangi komoditas pengguna narkoba tersebut, yang diketahui bahwa dampak negatif terhadap manusia terutama di Indonesia dari banyaknya pengguna adalah penuhnya penjara, praktek suap ke aparat dan kematian karena virus darah yang tertular. Sedangkan pada bagian terakhir tentang usulan kebijakan selain perang apa sih, kemudian kalo perang ini dihentikan bagaimana kita untuk mengurus narkoba dan menghentikannya sendiri.

Dengan adanya buku ini Patri Handoyo berharap sebagai salah satu wacana yang baru dalam literatur narkoba di Indonesia sehingga tidak terpaku pada sudut pandang hukum saja tetapi juga dari sudut pandang tidak pidana atau anti perang. Seperti yang disampaikan Patri Handoyo seorang ayah yang mempunyai dua orang anak, tidak mau jika anaknya kelak mengenal atau sampai mencoba narkoba. (Molly)

Kategori: