TIDAK PERLU IMPOR “Melimpah, Tanaman Pangan Indonesia”
Senin, 23 Februari 2015 | 11:20 WIB

TIDAK PERLU IMPOR- REKTOR UNIKA SOEGIJAPRANATA

SEMARANG (KRjogja.com) -  Teknologi pengolahan pangan semakin berkembang pesat di Indonesia, termasuk di berbagai perguruan tinggi (PT) bidang pertanian, teknologi pertanian dan pengolahan hasil pertanian. 
“Indonesia memiliki bahan pangan sangat melimpah sehingga ironis kalau kita mengimpor  komoditi pangan. Didukung pula berkembangnya berbagai riset teknologi pertanian di perguruan tinggi sehingga sinergi perguruan tinggi dan
petani serta dukungan pemerintah bisa menjadikan Indonesia memiliki ketahanan pangan yang bagus” ujar Rektor Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc saat menerima kunjungan silaturahmi Pemimpin Redaksi (Pemred) SKH Kedaulatan Rakyat Drs Octo Lampito MPd didampingi Kepala Biro Semarang Isdiyanto SIP di kampus Unika, kawasan Bendan Duwur, Semarang.
Menurut guru besar bidang teknologi pangan  Fakultas Teknologi Pertanian Unika ini, banyak ragam hasil tanaman pangan, buah-buahan dan produk pertanian lainnya yang belum optimal dimanfaatkan masyarakat mendukung swa
sembada pangan maupun ketahanan pangan. Indonesia kaya varian tanaman pangan, tinggal menunggu diolah secara optimal dengan sentuhan teknologi. Prof Budi Widianarko memberi contoh tanaman  ‘koro’ yang memiliki sedikitnya 29 jenis atau varian ini bisa dimanfaatkan sebagai produk makanan yang bermanfaat.
“Namun karena masyarakat sangat mudah mendapatkan kedelai daripada koro serta lidahnya sudah terbiasa (enggan berpindah) dari tempe kedelai atau lauk sejenis berbasis tempe kedelai, sehingga produk pangan dari koro tidak bisa maksimal untuk masyarakat” ujar Rektor.
Lebih lanjut menurut Rektor Unika, melihat kondisi kasus seperti koro-kedelai maka harus dicari solusi dan dihindari koro “dilawankan” dengan kedelai. Koro pasti “kalah” dari kedelai sehingga koro lebih pas kalau koro dijadikan
pangan fungsional. Misalnya upaya meneliti koro untuk mengatasi penyakit diabetis melitus (DM) atau kencing manis/gula.
“Dosen kami dari Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Dr Ir Chistiana Retnaningsih MP, salah satu lulusan S-3 Kedokteran Undip dibawah bimbingan saya, meneliti  hal-hal terkait dengan tanaman koro. Penelitiannya terkait tanaman koro untuk berbagai produk makanan (misal pengganti kedelai) serta koro untuk fungsional sebagai sarana menurunkan kadar gula penderita DM.  Caranya koro dibuat tepung lalu dengan kadar tertentu diberikan pada tikus percobaan yang  dikondisikan menderita penyakit
DM. Hasilnya kadar gula tikus bisa menurun secara signifikan. Penelitian ini masih terus dikembangkan ke arah aplikasinya pada manusia penderita DM” ujar Prof Budi  Widianarko yang juga aktif di Yayasan Obor Tani Semarang pimpinan Budi Dharmawan .
Terkait teknologi pengolahan pangan, Rektor Unika menyebutkan saat ini perguruan tinggi yang punya jurusan atau prodi bidang teknologi pangan, salah satunya Unika, memiliki alat-alat atau mesin canggih pengolahan hasil pertanian. Dengan sentuhan teknologi ini maka hasil pertanian para petani akan punya nilai tambah, makin baik kualitasnya dan bisa lebih tahan lama tanpa mengurangi rasa atau kandungan nutrisi bahan pangan tersebut. Unika dengan sejumlah mesin berteknologi tinggi merasa welcome menerima kalangan tani terutama dari daerah Jateng DIY untuk belajar bersama Unika terkait pengolahan hasil-hasil pertanian. (Sgi)

sumber : http://krjogja.com/read/249405/melimpah-tanaman-pangan-indonesia.kr

Kategori: