Perguruan Tinggi Wajib Beri Kontribusi bagi Nasib Bangsa
Jumat, 30 Januari 2015 | 15:49 WIB

SEMARANG- Perguruan tinggi (PT) wajib memberikan kontribusi memadai bagi nasib bangsa dan negara. Kiprah kalangan kampus seharusnya makin dominan ketika Indonesia memasuki krisis multidimensi.

”Banyak yang mempertanyakan bagaimana PT ikut membenahi pendidikan mental dan moral bangsa dewasa ini. Sudahkah PT peduli terhadap nasib rakyat,” kata Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr Budi Widianarko Forum Diskusi C Radio bertemakan Inspirasi dari PT Membangun Budaya Bangsa, Selasa (27/1) sore.

Puluhan tahun lalu, lanjutnya, mahasiswa bernama Soekarno dengan berani menyuarakan saatnya hidup sejajar dengan bangsa bangsa lain. ”Sekarang adakah mahasiswa, dosen, atau guru besar yang bersedia kembali mewujudkan cita-cita mulia tersebut,” ujarnya.

Hadir Rektor Unnes Prof Dr Fathurrakhman, Akademisi Undip Yuwanto PhD, Rektor Unisbank Dr Hasan Abdul Rozak, dan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Dr Mukshin Jamil. Dikatakan, semangat mahasiswa seperti Soekarno yang kemudian menjabat presiden RI itu butuh digelorakan kembali. Kalangan kampus wajib mengambil inisiatif bagaimana menempatkan Indonesia supaya tak selalu ketinggalan.

Bangkitkan Keilmuan

Banyak kontribusi yang bisa dihasilkan dari dalam kampus. Tuntutan tri dharma PT bahkan mewajibkan kampus tak sekadar menjadi menara gading. Mereka wajib menghasilkan penelitian bermutu serta pengabdian masyarakat yang mencakup semua aspek kehidupan masyarakat.

”Semuanya bahkan menyadari Tanah Air ini kaya raya. Luas daratan dan perairannya bisa menyamai enam Negara di Eropa. Tapi karena semangat dan mentalnya belum kuat menjadikan manajerial pengelolaan negaranya rendah,” imbuh Mukshin Jamil. Diapun mengundang segenap kalangan kampus untuk bersedia mendarmabaktikan keilmuannya untuk kemajuan pembangunan.

Hasan Abdul Rozak menggarisbawahi pembenahan moral dan mental bangsa semestinya bermuara terwujudnya ilmu pengetahuan yang lebih baik, perubahan sikap, dan keahlian memadai di masyarakat. Ini dapat diwujudkan dengan menggenjot partisipasi kampus.

Yuwanto menegaskan insan kampus harus menjadi pioner bila mengetahui Tanah Airnya dirundung permasalahan. Akademisi bisa menciptakan banyak terobosan mengandalkan keilmuan yang dimiliki. Rektor Unnes Fathur Rokhman memandang bangsa ini butuh jati diri. Identitas itu penting untuk menata menuju kondisi yang lebih baik. (H41-95)

Kategori: