Menjadi Rendah Hati Karena Lingkungan
Jumat, 16 Januari 2015 | 11:48 WIB

 

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia (http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan). Maka, sebelum bicara tentang lingkungan, perlu diperhatikan mengenai perspektif pembahasannya karena lingkungan memiliki arti yang sangat luas. Peduli dan Berdamai dengan Lingkungan. Mendengar tema majalah Berkat edisi 73 ini, Prof. Dr. Ir. Y. Budi Widianarko, MSc. atau lebih akrab dipanggil Prof Budi, mengaku merasa sedikit kebingungan untuk memaparkan penafsirannya berkaitan dengan tema tersebut.

Peduli itu jelas. Tapi kalau berdamai, tafsirannya bisa ganda. Cara pandang berdamai itu kok sepertinya manusia dan lingkungan menjadi tidak satu, terlalu antroposentris (fokus pada manusianya). Padahal bagi saya, manusia itu bagian dari lingkungan. Jadi, jika dikatakan berdamai dengan lingkungan, maka artinya dia berdamai dengan dirinya sendiri,” tutur rektor Universitas Katolik Soegijapranata ini mengawali wawancara dengan awak redaksi.

Prof Budi mengatakan bahwa kata damai itu mengandung unsur kompromis, yang berarti manusia “menerima” kerusakan lingkungan, lalu baru akan mulai memperbaikinya. Sikap menerima itulah yang kadang justru menjadi bumerang bagi lingkungan tersebut. Ada cara pandang mainstream (arus utama) yang melakukan pendekatan grow now, clean up later (tumbuh sekarang, bersih-bersih nanti) atau dapat diumpamakan seperti pesta sekarang, cuci piring nanti. Hampir semua negara maju, seperti negara-negara di Amerika Utara, Eropa Barat, dan Jepang, telah melakukan pendekatan tersebut sejak beberapa puluh tahun lalu. Meskipun hasilnya memang baik, lingkungan jadi lebih terawat, namun ternyata grow now, clean up later memiliki konsekuensi yang serius. Tak jarang bahkan hingga memakan korban, misalnya dengan “membuang” para penderita penyakit menular yang belum ada obatnya sampai meninggal. Kesadaran lingkungan yang mengilhami pendekatan grow now, clean up later ini muncul sekitar tahun 1970an. Jadi, apabila Indonesia baru akan menerapkan pendekatan itu sekarang, maka jelas sudah bahwa Indonesia sangat terlambat karena kemajuan teknologi yang luar biasa saat ini memiliki daya rusak lingkungan jauh lebih besar dari pada beberapa tahun sebelumnya.

Pria kelahiran Semarang, 23 November 1962 ini sedikit bercerita dengan membandingkan jenis sabun ketika beliau masih anak-anak dengan sekarang. “Ketika saya kecil, hanya ada 2 jenis sabun, yakni sabun cuci dan sabun mandi. Sekarang, banyak sekali varian sabun mulai dari sabun kecantikan, sabun kesehatan, dan lain sebagainya. Dari sisi kualitas hidup memang meningkat, namun dari sisi kualitas lingkungannya masih tanda tanya. Semua berbahan kimia. Jika pada level pribadi saja kita sudah tidak lagi bisa berdamai dengan lingkungan, lalu bagaimana? Gaya hidup yang cepat tidak hanya merambah pada level korporasi, tapi kini juga pribadi,” tegasnya. Ia juga berpendapat bahwa keberhasilan penemuan plastik turut menunjang kerusakan lingkungan. Semakin mutakhir teknologi yang ditemukan, akan semakin berpotensi pula dampaknya bagi lingkungan. Oleh karena itu, perlu disadari bahwa manusia selalu terbatas, jika kaitannya dengan lingkungan.

Segala perkembangan yang berhubungan dengan teknologi memiliki unintended consequences (konsekuensi yang tidak disengaja), yakni adanya konsekuensi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dalam riset terbarunya mengenai plastik, Prof. Budi menjelaskan bahwa ternyata plastik bisa remuk menjadi ukuran yang sangat kecil (kurang dari 5 mikron) yang bisa masuk ke pembuluh darah makhluk hidup. Hal itu tentunya membahayakan bagi kesehatan, mengingat proses penguraian plastik memerlukan waktu yang cukup lama. Plastik berukuran besar yang tidak tertangani, ternyata juga banyak ditemui di laut lepas, bahkan ada yang hingga membentuk pulau plastik, yakni di sekitar samudra Pasifik. Banyak bencana yang sebenarnya berasal dari dampak kerusakan lingkungan, seperti banjir misalnya, yang jelas-jelas merupakan dampak dari perilaku manusia yang membuang sampah sembarangan. Sindrom NIMBY (not in my backyard) yang artinya tidak di halaman saya sepertinya mempengaruhi perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya. “Yang penting rumahku bersih, mau membuang sampah di sungai atau di jalan, tidak masalah,” tutur Prof. Budi mencontohkan perilaku NIMBY yang memang nyata terjadi di banyak daerah.

“Apa yang kita lakukan sekarang, tidak lepas dari resiko yang kita sendiri belum tahu. Sehingga kesimpulannya,  manusia itu terbatas tapi berusaha memahami seluruh ciptaan. Etika teologinya di situ. Tugas manusia menjaga keutuhan ciptaan,” tambah Prof Budi. Pada kenyataannya, manusia cenderung mengandalkan teknologi untuk memperbaiki kerusakan lingkungan (technology fix). Problem lingkungan terjadi dulu, baru kemudian dicarikan solusi. Hal tersebut seharusnya mampu menyadarkan manusia bahwa ia memiliki ketidakmampuan, keterbatasan dalam hal lingkungan. Di sinilah peran gereja mulai dibutuhkan. Gereja diharapkan mampu untuk membantu membentuk kesadaran itu dari sisi spiritualitas dan religiusitas. “Syarat berdamai dengan lingkungan itu ya menyadari/ tahu diri bahwa setiap tindakan/ buah pemikiran/ kebijakan harus disadari bahwa selalu penuh dengan keterbatasaan. Dengan demikian, kita juga akan menjadi pribadi yang rendah hati. Semua penemuan yang hebat itu ujungnya akan selalu berdampak pada lingkungan,” ujar dosen S3 lingkungan di Universitas Diponegoro ini.

Beberapa solusi yang dapat digunakan untuk menjaga kelestarian lingkungan juga dipaparkan oleh Prof. Budi, yakni (1) Teknologi (pengolahan limbah dengan cara modern); (2) Hukum (undang-undang polluters pay principle atau denda bagi para perusak lingkungan); (3) Ekonomi (memberi insentif bagi pelaku industri yang berhasil mengolah limbah dengan baik, pengurangan nilai pajak); (4) Politik (sosialisasi lingkungan melalui partai politik); (5) Spiritualitas (homili romo diisi dengan hal-hal kecil yang berkaitan dengan penghijauan). “Saya sedikit cerita mengenai air. Semua agama menempatkan air sebagai zat yang mempunyai daya untuk menyucikan, membuat manusia menjadi lebih suci. Namun seringkali kita pun memberikan sesuatu yang kotor pada air, misalnya buang air kecil sembarangan ataupun membiarkan limbah pabrik mengotori sungai. Pertanyaannya, kok bisa perlakuan airnya beda? Seakan manusia jiwanya terbelah ketika berhadapan dengan air. Di satu sisi air itu suci, di sisi lain air itu boleh dikotori. Di sanalah peran agama dan rohaniwan untuk “mendamaikan” hal itu,” ujar Prof. Budi menutup pembicaraan pagi itu. ( Giza – Berkat ).

 

Kategori: ,