Kesuksesan Pemilu Bukan di Tingkat Partisipasi
Kamis, 29 Januari 2015 | 8:49 WIB


SEMARANG – Pengamat pemerintahan, Teguh Juwono menegaskan, keberhasilan pelaksaan pemilu tak bisa dinilai dari tingkat partisipasi. Dalam demokrasi, persoalan memilih atau tidak, merupakan hak masing-masing individu. Akademisi dari Undip itu menyatakan, keberhasilan pemilu dilihat dari proses.
”Kesuksesan pemilu tak bisa dilihat dari tingkat partisipasi. Kesuksesannya dilihat dari proses yang dijalankan,” ujarnya saat FGD Figur Calon Wali Kota Harapan Publik di Kantor Suara Merdeka, Jalan Raya Kaligawe, kemarin.
Diungkapkan, survei yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Hukum dan Komunikasi, Unika Soegijapranata, membuka banyak wacana. Selanjutnya, dia berharap bisa terbuka wacana yang lain. Menurutnya, pembahasan di taraf ini akan lebih baik jika tak fokus pada calon saja, tapi juga pada pengusung.

Tren
Ketua KPU Kota Semarang Henry Wahyono mengungkapkan, ada tren meningkat pada partisipasi masyarakat dalam pemilu. ”Di pemilu gubernur, legislatif, dan presiden, partisipasi masyarakat termasuk tinggi. Kami akan coba terus meningkatkannya dalam pemilu wali kota mendatang,” tuturnya.
Dia juga mengungkapkan, barubaru ini pihaknya menerima KPU Award untuk kategori Kreasi Sosialisasi dan Partisipasi Pemilih. Saat ini, pihaknya memang diberi pengarahan oleh KPU Pusat untuk menjalankan sosialisasi pilwakot. Namun, mengingat masih ada kemungkinan perubahan undang-undang pilkada, pihaknya masih harus berpikir tentang bahan yang akan disosialisasikan.
Sementara Dhian Adi, mahasiswa, Unika Soegijaprana, mengungkapkan, Kota Semarang membutuhkan figur ikonik. Dia merujuk pada Ridwal Kamil di Bandung atau Jokowi saat di Solo dan Jakarta.
Mereka menurutnya berhasil menjadi ikon terutama bagi generasi muda. ”Jangan lupa, mayoritas pemilih nanti adalah generasi muda. Karena itu, penting untuk mendukung kegiatan para pemuda. Ridwan dan Jokowi, saya kira berhasil menjadi pemimpin karena mereka dekat dengan para pemuda dan memiliki program yang berkaitan langsung dengan mereka,” katanya.
Selain itu, FGD yang dimoderatori Redaktur Pelaksana Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo, juga membahas beberapa hal lain seperti maraknya money politics dan juga pemetaan asal dukungan.
Acara berlangsung hangat dan sesekali diwarnai canda tersebut berjalan hingga tengah hari.
Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Amir Machmud, mengatakan, FGD digelar untuk enyongsong pilwakot. Pihaknya juga akan menggelar kegiatan serupa di beberapa waktu ke depan. (H35,H71-87)

Kategori: