Fokus Sektor Pertanian
Selasa, 13 Januari 2015 | 14:11 WIB

FokusSektor PertanianANDREASLAKOSM090115

KINERJA perekonomian Jawa Tengah (Jateng) pada 2014 diperkirakan hanya tumbuh 5,3 persen atau menurun dibanding 2013 dengan pertumbuhan 5,8 persen. Besaran itu yang terendah dalam lima tahun terakhir. Faktor penyebabnya memang kompleks namun secara khusus saya mengindentifikasi ada dua faktor penyebab utama.

Pertama; kian memburuknya kondisi perekonomian dunia dan nasional dalam dua tahun terakhir itu. Kinerja perekonomian Jateng, baik secara sektoral maupun secara penggunaan sangat dipengaruhi oleh dinamika perekonomian global dan perekonomian regional dari sejumlah provinsi yang memiliki relasi ekonomi erat dengan Jateng.

Dalam dua tahun terakhir, perekonomian negara yang memiliki relasi ekonomi (ekspor impor) besar dengan Jateng, seperti AS, Tiongkok, Jepang, serta negara Eropa dan ASEAN, memburuk. Demikian pula sejumlah provinsi, yang menjadi “pasar” utama komoditas Jateng, seperti Jabar, Jatim, DKI Jakarta, Banten, DIYdan beberapa provinsi di Kalimantan dan Sumatera. Menurunnya kinerja perekonomian dunia dan nasional itu berimbas negatif pada Jateng.

Kedua; makin merosotnya kinerja ekonomi dari sektor pertanian yang selama ini menjadi pilar utama dan lokomotif perekonomian Jateng. Pertumbuhan sektor pertanian 2014 dalam struktur produk domestik regional bruto (PDRB) Jateng terus menurun drastis. Pada triwulan I, II dan III-2014 pertumbuhan sektor pertanian menurun drastis dari 3,7% (2012) dan 2,2% (2013) menjadi hanya 1,6% (triwulan I), 0% (II) dan minus 2,3% (triwulan III).

Secara keseluruhan, tahun 2014 pertumbuhan sektor pertanian diperkirakan di bawah minus 1-2 persen. Dari data tersebut terlihat pertumbuhan sektor pertanian cenderung merosot drastis dalam dua tahun terakhir. Merosotnya kinerja sektor pertanian juga menjadi faktor penekan signifikan terhadap pelambatan laju pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan PDRB Jateng 2013-2014.

Sebagai sektor primer dan menjadi lokomotif perekonomian daerah, makin merosotnya kinerja sektor pertanian memicu peningkatan jumlah penganggur dan angka kemiskinan, serta menurunkan kesejahteraan rakyat.

Inilah yang harus mendapat perhatian serius pemda dan pemangku kepentingan di Jateng terkait pembangunan ekonomi 2015. Jika ingin struktur perekonomian makin kuat dan berkualitas maka pembangunan sektor pertanian harus mendapat perhatian utama.

Kurang Fokus

Menurunnya konstribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDRB Jateng 2014 disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama; terjadi perubahan cuaca ekstrem, banjir dan bencana alam lain yang menyebabkan kegagalan panen sektor pertanian. Alasan inilah yang sering disampaikan aparat pemerintah dan pihak terkait sebagai pembenar merosotnya kinerja pertanian.

Kedua; masih terus terjadinya krisis ekonomi global dan regional sehingga berdampak negatif pada kinerja perekonomian Jateng secara keseluruhan, baik dari sisi sektoral maupun dari sisi penggunaan ekonomi (konsumsi, investasi, pengeluran pemerintah dan ekspor impor). Memburuknya kinerja ekonomi pada sejumlah sektor ekonomi berimbas negatif pada kinerja sektor pertanian.

Ketiga; Pemprov Jateng dan pemkab/pemkot dalam 16 bulan terakhir kurang fokus menggenjot sektor pertanian sebagai sektor primer dan lokomotif perekonomian daerah. Kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo (2013-2018) tampaknya lebih fokus pada pembenahan tata kelola pemerintahan, pemberantasan korupsi, serta upaya memajukan kesejahteran rakyat dan mendorong kemandirian daerah.

Dari tiga faktor penyebab itu, faktor ketiga paling dominan. Karena itu, solusi untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja sektor pertanian 2015 dan tahun – tahun selanjutnya adalah Gubernur Jateng dan beberapa bupati yang memiliki basis pertanian kuat perlu memberikan perhatian yang besar atau prioritas pada pembangunan sektor primer ini.

Apabila pemerintah berkeinginan kuat mengundang pemodal baru untuk meningkatkan perekonomian Jateng mulai 2015 dan tahun-tahun selanjutnya, sebaiknya mengundang investor yang memang bergerak dalam industri sektor pertanian. Keberadaan investor tersebut, selain bisa meningkatkan kemitraan strategis dan pemberdayaan terhadap masyarakat petani, nelayan, perajin dan sebagainya, juga dapat memaksimalkan potensi sumber daya pertanian dan penciptaan nilai tambah ekonomi.

Sektor pertanian sebagai sektor primer dan lokomotif perekonomian Jateng harus mendapat prioritas utama guna mewujudkan visi pembangunan 2013-2018 yaitu “Menuju Jateng Sejahtera dan Berdikari”. Untuk itu, fokus pembangunan 2014 yang dilanjutkan 2015 dengan peningkatan infrastruktur dan kualitas pelayanan dasar menuju kemandirian wilayah dan kesejahteraan masyarakat haruslah diarahkan dalam kerangka memajukan kinerja sektor pertanian. (10)

Andreas Lako, Guru Besar Akuntansi, Kepala LPPM Unika Soegijapranta Semarang

Kategori: ,