BERKAT DUKUNGAN KELUARGA DAN DOSEN
Rabu, 10 Desember 2014 | 10:59 WIB

EDISI WISUDAWAN TERBAIK PERIODE DESEMBER 2014

Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, predikat wisudawan terbaik diperoleh oleh seorang perempuan yang membuat skripsi dengan judul “Analisis Fenomenologi Representasi Konsep Pria Dalam Iklan Televisi (Studi pada Iklan Televisi Vaseline Men Wash Moisturizer Versi Naik Motor dan Men’s Biore Versi Main Bola)”. Ia bernama lengkap Florensia Yunia Dian Isa Purwitasari.

Pemilik nama panggilan Dian ini mempunyai hobi travelling, memasak, menyanyi dan menari. Hobi menari ini ia salurkan dengan mengikuti sanggar Tari Greget. “Melalui sanggar tari ini saya pernah menjadi peserta dan mengikuti ajang menari Tari Gambyong di Jepang pada tahun 2010,” tutur perempuan kelahiran 1 Juni dua puluh satu tahun yang lalu ini. Selain itu kegiatannya ini, ia juga aktif di Youth Gabriel (organisasi Orang Muda Katolik) serta Karangtaruna.

Mencoba menjelas isi skripsinya, ia menuturkan bahwa penelitiannya ini bertujuan untuk mengetahui konsep Pria dalam persepsi pasar, baik pria maupun wanita. “Hasilnya adalah konsumen lebih menyukai alur cerita yang ditawarkan oleh Mens Biore karena mereka lebih menyukai tanda permainan sepak bola. Sedangkan untuk icon iklan, konsumen lebih memilih Al dibandingkan Ariel dikarenakan perilaku dan image yang baik,” terangnya.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa ternyata pasar memperhatikan sekali penggunaan model iklan. Dalam hal ini desain iklan sendiri sudah dianggap pasar sesuai dengan tagline-nya.

Menambahi cerita tentang pembuatan skripsi, ia menuturkan,” Selama mengerjakan skripsi saya membutuhkan waktu yang cukup lama dari bulan Febuari hingga menyelesaikan di bulan September. Selain itu saya juga sampai mengganti tema dan judul skripsi sampai dengan tiga kali. Namun berkat dukungan keluarga, bahkan dosen wali, akhirnya dapat terselesaikan juga.”

Mengenai perkuliahan di Unika, ia berkisah,” Proses perkuliahannya juga saya rasa ketat. Karena dosennya juga memiliki jam pengajaran yang ketat. Nilai yang diberikan juga tidak segan-segan jelek kalau mahasiswanya tidak benar-benar mengerjakan dengan benar.”

Salah satu kesan positif lain tentang Unika yang ditangkap Dian adalah bahwa Unika bukan hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk menjadi pintar dalam hal pelajaran tetapi juga mengasah mahasiswanya secara soft skill. Hal ini merupakan ciri khas Unika yang kurang dijumpai di universitas lain di Kota Semarang ini.

Meski demikian, seperti kata pepatah tiada gading yang tak retak, ia juga memberi usul agar Unika meningkatkan dan memperbaiki sarana-prasarana yang saat ini kurang optimal. (teo)

 

Kategori: