Sambil Bermain Belajar Sejarah
Minggu, 23 November 2014 | 23:35 WIB

BELAJAR sejarah bagi banyak orang identik dengan membaca buku tebal atau datang ke museum dan peninggalan bersejarah. Alhasil, belajar sejarah makin tak menarik karena monoton. Akhirnya, tak banyak kaum muda tertarik mempelajari disiplin ilmu itu.

Namun kini kecanggihan teknologi yang mewujud dalam berbagai perangkat penunjang kehidupan mempermudah banyak hal, tak terkecuali dalam belajar sejarah. Pada aplikasi yang tersedia pada perangkat genggam berbasis Android, misalnya, berbagai aplikasi permainan (game) bertema kesejarahan mudah ditemukan.

Mahasiswa Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, antara lain, aktif membuat game bertema sejarah. Beberapa game yang telah mereka hasilkan antara lain Mahesa Jenar, Peristiwa 10 November di Surabaya, Pertempuran Medan Area, Serangan Umum 1 Maret, Bandung Lautan Api, Palagan Ambarawa, dan Pertempuran 5 Hari di Semarang.

Vania Wahyu Febriani, anggota tim pembuat Mahesa Jenar, menuturkan sesuai dengan cerita aslinya, game berbasis gambar tiga dimensi full animasi itu mengangkat kisah kesatria dari Kerajaan Demak.

Mahesa Jenar dikisahkan berjuang merebut kembali pusaka kerajaan yang dicuri. Pembuatan game itu diselesaikan dalam waktu dua bulan. Vania bersama tim pun harus memperdalam cerita Mahesa Jenar dari berbagai literatur sebelum merancang. “Perjalanan hidup dia bisa diangkat dari berbagai sisi. Pada game ini kami cuma mengambil bagian ketika Mahesa Jenar merebut kembali harta yang direbut Lawa Ijo,” kata Vania.

Dia menilai kisah perjuangan prajurit pilihan itu patut diteladani. “Maka harus dikenalkan ke generasi muda supaya mereka belajar lewat game ini,” katanya.

Untuk mewujudkan gagasan itu, Vania berbagi tugas bersama kawan-kawan. Ada yang bagian pemrograman, cerita, karikatur, dan audio. “Ada pula yang bertugas sebagai reviewer untuk memberi masukan apa saja yang kurang,” kata dia.

Dalam waktu dua bulan, Mahesa Jenar dapat diselesaikan dengan beberapa kali perbaikan. Vania mengemukakan aplikasi yang dapat diunduh di laman gamebelajar.com itu memiliki alur penceritaan yang sama dengan cerita asli. “Di perjalanan Mahesa Jenar menemui banyak rintangan untuk menemukan harta itu kembali. Sementara ini baru sampai pada level 2. Kami berencana membuat lebih dari level 5 supaya ceritanya komplet,” kata gadis kelahiran Semarang, 9 Februari 1995, itu.

Lebih Tahu

Selain Mahesa Jenar, Vania dan kawan-kawan setim telah membuat tak kurang dari 10 game. Game itu antara lain Battle of Keraton yang mengisahkan perlawanan pribumi terhadap kaum penjajah yang terjadi di keraton. Lalu Dazed Zone yang merupakan game peperangan serta Perfect Place yang berisi sayembara untuk menemukan anak raja yang diculik. “kami berharap kelak masyarakat Jawa Tengah lebih tahu sejarahnya sendiri,” ujar dia.

Motivasi serupa dimiliki Adit Rama Putra, salah satu penggagas game Palagan Ambarawa. Dia menuturkan membuat aplikasi yang tercipta 2012 itu untuk membangkitkan semangat kepahlawanan di kalangan generasi muda. “Setidaknya kami ingin menawarkan cara lain belajar sejarah,” kata dia.

Dalam Palagan Ambarawa, pemain memainkan tujuh stage yang bercerita tentang perang Palagan Ambarawa. Setelah masuk ke dalam markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pemain akan memainkan misi menyusup ke markas NICA untuk mengamankan Kota Magelang dan merebut desa yang dikuasai NICA. Setelah itu menyusup ke Benteng Willem untuk menguasai ruang radio, lalu merebut desa lain yang dikuasai NICA, dan akhirnya memukul mundur tentara NICA dari jalan raya Ambarawa-Semarang.

Adit berpandangan cara mempelajari sejarah pada era sekarang kurang bervariasi. Karena itu, butuh upaya mendekatkan pembelajaran sejarah pada generasi muda. “Permainan ini mendapat sambutan positif dari pengunduh. Kami juga sedang mengembangkan beberapa game bertema edukasi,” ujar mahasiswa semester V itu.

Namun Vania dan Adit mengakui game yang mereka buat masih sarat kekurangan, seperti pada animasi dan kapasitas yang masih terlampau besar untuk sebuah perangkat genggam. Namun mereka optimistis aplikasi mobil itu kelak laku terjual jika sudah dikelola secara profesional.

Tidak hanya menciptakan secara mandiri, bersama dosen, mereka bersama tim juga aktif menggelar serangkaian pelatihan pembuatan game edukasi di berbagai sekolah di Semarang untuk pengembangan alternatif media pembelajaran pendidikan yang kreatif sekaligus mendorong potensi kewiraswastaan di lingkungan sekolah.

Sebab, para guru telah mempunyai modal cukup dalam pengembangan game bertema pendidikan, yaitu konten pengetahuan yang disampaikan dalam setiap kali pertemuan. Dengan sentuhan teknologi yang mudah, mereka berharap akan banyak konten pengetahuan yang dapat ditransfer dalam bentuk permainan yang menarik.

Dosen Program Studi Game Technology Erdhi Widyarto Nugroho menyatakan selalu mendorong mahasiswa menggali berbagai macam potensi lokal dan mengembangkannya dalam wujud permainan. “Beberapa game itu adalah usaha kami mengenalkan sejarah dan nilai kepahlawanan kepada banyak orang,” ujar Erdhi.

 

Kategori: