Pengembangan ‘Green Business’ untuk Perusahaan Batik
Rabu, 12 November 2014 | 10:47 WIB

“Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang umurnya tidak muda. Sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit batik sudah dipakai. Selain itu, batik juga sudah menjadi ciri khas Indonesia,” begitu ungkap Prof. Dr. Andreas Lako, M.Si ketika membuka seminar “Pengembangan ‘Green Business’ untuk Perusahaan Batik sebagai Pembawa Tradisi Budaya Indonesia”.

Seminar yang digelar pada hari Rabu, 12 November 2014, diadakan sebagai bentuk diseminasi hasil-hasil temuan dan rekomendasi penelitian yang dilakukan oleh beberapa dosen Unika Soegijapranata. Sebagai koordinator dalam penelitian ini, Dr. J. Wijanto Hadipuro, S.E., M.T, menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perusahaan batik di Jawa Tengah mengadopsi manajemen ‘green business’.

“Yang kami temui, perusahaan batik mengadopsi manajemen ‘green business’ karena tuntutan pasar internasional. Misalnya di Amerika Serikat, pemerintah menerapkan aturan yang ketat tentang proses produksi apakah sudah ramah lingkungan atau belum. Aturan ini memaksa salah satu perusahaan di Lawean untuk membuat Inpal (instalasi pengolahan limbah) sendiri dan menggunakan pewarna kimia yang ramah lingkungan,” imbuh dosen Fakultas Ekonomi dan Dosen ini.

Dalam seminar ini, LPPM (Lembaga Pengabdian dan Penelitian kepada Masyarakat) Unika Soegijapranata juga menghadirkan kepala dinas koperasi dan UMKM Jawa Tengah, Bapak Sudjarwanto serta beberapa pelaku industri batik di Jawa Tengah dan Yogyakarta. (teo)

Kategori: ,