Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Thailand (1)
Selasa, 11 November 2014 | 8:46 WIB

Kurang Dana, Berkah Raja pun Jadi

Merayakan 10 Tahun Program Magister Hukum KesehatanUnika Soegijapranata, 28 mahasiswaAngkatan 18 kuliah kerja lapangan (KKL) ke Bangkok. Dibimbing para dosen, mereka meneliti hukum dan pelayanan kesehatan di Negeri Gajah Putih itu. Berikut reportase wartawan Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo yang mengikuti kunjungan ke Mahidol University.

ULANG tahun itu tidakdirayakan dengan makan malamdan peniupan lilin romantis.Malam itu, 3 November, Anuwat,pemandu perjalanan, justru berteriakkeras-keras, “Kita harussegera tidur. Kita akan ke universitaspagi sekali agar tak terhambatkemacetan.”Jalanan memang sedikitmacet saat rombongan berangkat.Langit sedikit mendung. Meskidemikian, suasana itu tak menghalangiAnuwat menceritakan tentangrumah sakit universitas yanghendak diteliti.“

Mahidol adalah Bapak Kesehatan Publik dan Pengobatan Modern Thailand. Namanya digunakanuntuk menengarai sebuah universitas. Nama raja lain yang dipakai adalah Chulalongkron.”Sesungguhnya, tidak perludiherankan mengapa nama-namaraja selalu dihubungkan dengankesehatan. “Raja Bhumibol sebagaipemberi nama, jelas-jelas lahir dari Raja Mahidol (dokter) dan Srinagarindra (perawat). Kenyataan ini sangat memengaruhi kebijakan-kebijakan yang berkait dengan kesehatan di Thailand.

Monarki sangat pro kesehatan,”ujar Sekretaris Program Studi Magister Hukum Kesehatan Dr Endang Wahyati Yustina, pemimpin rombongan. Penjelasan itu terbukti saat para mahasiswa sampai di Mahidol University, Distrik Rachathewee, Bangkok. Setelah berkeliling kampus rumah sakit untuk menemui pasien, dokter, perawat, dan pengacara hukum kesehatan, mereka sampai pada satu simpulan : ada perbedaan antara pelayanan kesehatan di Thailand dan Indonesia. Di Thailand, penyakit-penyakit tropis(antara lain malaria, demam berdarah, tifus, dan kulit) ditangani rumah sakit untuk penyakit tropis(Hospital for Tropical Diseases).“Setiap hari kami melayani 200 pasien,” kata ChenchiraNatahong, humas FakultasKesehatan Masyarakat. Dia juga menambahkan, jika ada penyakit yang memerlukan pembedahan, baru dirujuk kerumah sakit umum. Sebaliknya di Indonesia,penanganan penyakit-penyakit tropis justru dilakukan di rumahsakit umum atau rumah sakit yangmengkhususkan diri pada penyakit tertentu, misalnya rumah sakit paru-paru di Salatiga atau rumah sakit kusta di Semarang.

Penanganan kesehatan di Thailand yang lebih intensif itu tentu bukan begitu saja turun dari langit. Ada biaya besar berasal dari jaminan sosial, bantuan tak mengikat dari berbagai penjuru,dan dana pemerintah yang bisadikumpulkan. Apakah dengan demikianpelayanan kesehatan di Thailand tidak memiliki masalah? “Oo,tentu saja kami juga memiliki banyak masalah. Sebab, situasi politik gampang berubah, kebijakan kesehatan kerap berganti. Selain itu, karena gaji dokter umum rendah, kami kekurangan mereka. Para dokter umum lebih memilih bekerja sebagai dokter swasta. Penyebaran dokter tidakmerata. Dana juga kurang karena kebutuhan dunia medik tak sebanding dengan uang yang dikumpulkan. Jika ada yang harus ditambahkan, maka masalah terbesar yang lain adalah dana, dana, dan dana,” kata pengacara Suthee U-sathaporn, pengajar di Program Studi Hukum Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Administrasi, setengah bergurau. Penjelasan ini tentu saja terdengar aneh. Sebab, banyak pihak tahu bahwa warga Thailand cukup mahir mengumpulkan uang dari sumber mana pun. Uang mengalir seperti air dari pariwisata.‘’ Memang punya masalah,tetapi akan bisa teratasi dengan berbagai cara. Ini karena monarki mendukung kesehatan,’’ tambah Suthee.

Malapraktik Tentu saja persoalan kesehatan tidak hanya didominasi oleh kebutuhan akan pendanaan. Malapraktik, misalnya, jugamenjadi masalah serius. Serius bagi dokter, hukum, maupun pasien. Masyarakat Thailand, hari-hari ini, berusaha menekan segala hal yang berkait dengan malapraktik. Hukum-hukum ditegakkan. Standar-standar kompensasi terhadap pasien yangdidera malapraktik juga diformulasikan.Meskipun demikian, Sutheemen jelaskan, “Biasanya saat berhadapan dengan pasien yang didera malapraktik, pengacaraakan bilang ini akibat forcemajeure (kejadian di luar kemampuan manusia dan tidak terhindarkan)dan tidak bisa disembuhkan.Selain itu, mereka akan bilang, klien kami minta maaf dan akan mengganti rugi.’’Karena itu, perjuangan untuk propasien dan mengatasi malapraktik memang masih digelorakan di Thailand. Berubah atau tak berubah situasi sosial politik dikawasan berjuluk Negeri GajahPutih itu. (61)

 

Kategori: ,