MEMBANGUN KEMANUSIAAN DENGAN SEPENUH HATI
Kamis, 28 Agustus 2014 | 20:48 WIB

 

Homili Misa Awal Tahun Akademik 2014-2015

Para suster, Para rama, Pak Rektor, bapak-ibu dosen dan karyawan, serta teman-teman Mahasiswa yang terkasih,

Hari ini kita berkumpul di sini untuk merayakan misa pembukaan perkuliahan Tahun 2014-2015 dengan tema “Membangun Kemanusiaan dengan Sepenuh Hati”. Ini melanjutkan semangat baru dalam PTMB kemarin. Mgr. Soegija menjadi teladan kita bagaimana menghayati diri sebagai pribadi yang berusaha merangkul siapa saja dengan sepenuh hati.

Dalam film Soegija, ada kutipan kata-kata Mgr. Soegijapranata tentang kemanusiaan. Dikatakan: “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan”.

Bersama Gereja, pada hari ini kita merayakan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu. Maria menjadi ratu pencinta damai. Semangat menghadirkan kedamaian. Hadir membawa damai, bukan ancaman, ketakutan atau kebencian.

Mgr Soegija mewariskan semangat 100% Katolik 100% Indonesia kepada kita. Kalau dikaitkan dengan semangat Bunda Maria, saya menambahkan, 100% Katolik 100% Indonesia, sekaligus 100% Religius 100% Cendekiawan-Humanis. Mahasiswa Unika diharapkan menjadi pribadi yang sungguh 100 100% Religius 100% Cendekiawan-Humanis. Dengan semangat kasih sebagaimana diajarkan Yesus, kita berusaha menekuni pendidikan di UNIKA Soegijapranata ini hari demi hari.

Dalam Tradisi Yahudi, ada 613 perintah dalam hukum Taurat, di mana 365 larangan dan 248 perintah. Jumlah larangan sesuai dengan jumlah hari dan jumlah perintah sesuai dengan jumlah tulang dalam tubuh manusia. Apa maksudnya?

Dalam Buku “Kepemimpinan Kristiani (Melayani Sepenuh Hati)”, ditemukan jawaban atas pertanyaan itu. Pada halaman 64, dikatakan, “Seorang pemimpin tidak lain seorang pelayan. Dia mempunyai panggilan dan tanggungjawab yang mulia, yaitu bagaimana mampu melayani dengan sepenuh hati. …. Supaya panggilan dan tanggung jawab yang luhur itu bisa dihayati, dibutuhkan komitmen. Hal itu dilaksanakan bukan karena keterpaksaan, tetapi karena kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik. Kesadaran diri ini diasah terus-menerus dan ditempa dalam aneka pengalaman dan peristiwa yang terjadi. Lambat laun hal ini akan menjadi habitus diri dan milik yang melekat dalam diri seseorang sampai akhir hayat.

100 Religius dan 100% Cendekiawan-humanis bisa terasah hari demi hari dengan terus menjaga komitmen, ketekunan dan habitus yang baru. Pegangannyanya adalah Hukum Kasih. Yesus merangkum 613 butir hukum itu dengan Hukum Kasih. Rangkuman ajaran itu adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40). Rangkuman Yesus ini pasti memudahkan para murid, juga kita, dalam memahami ajaranNya dan membingkai pengajaran kita.

Belajar dari Yesus marilah kita belajar merangkum dengan baik segala pengajaran yang kita terima dan merumuskannya kembali sebagai rumusan yang gampang dimengerti. Membuat yang rumit jadi sederhana dan tidak memperumit yang sederhana.

Habitus religious dan cendekiwan-humanis itu bisa diciptakan dan dikondisikan. Asal ada kemauan dan kesungguhan hati. Ada tradisi yang sudah baik ada di Unika ini. Suasana rohani di kampus terus menerus diupayakan. Misal, setiap Jumat jam 12.00 ada misa di kapel, ada misa awal dan akhir tahun perkuliahan,  ada renungan jalan salib setiap jumat selama Prapaskah, ada gladi rohani, ziarah, rekoleksi dan retret.

Maka marilah kita mohon kepada Tuhan melalui Bunda Maria Ratu agar kita mampu membangun kemanusiaan dengan sepenuh hati di kampus Unika ini dari hari ke hari.

Kemuliaan kepada Bapa…..

 

Kategori: