Konsentrasi Urus Jateng
Jumat, 29 Agustus 2014 | 12:24 WIB

TANGGAL 23 Agustus 2013, genap setahun Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko (Gagah) memimpin Jawa Tengah sebagai gubernur-wakil gubernur. Pada awal keterpilihan dan pelantikannya, Gagah menjanjikan membawa perubahan bagi Jateng ke arah yang lebih baik.

Keduanya berjanji segera mereformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan, termasuk mereformasi ekonomi mrnuju arah yang lebih maju, mandiri, sejahtera, dan bermartabat. Apakah semua janji tersebut terpenuhi setelah setahun memimpin? Masyarakat bisa mengkaji sejumlah indikator kinerja ekonomi dan sosial dalam setahun terakhir yang cenderung menurun.

Buruknya kinerja ekonomi bisa dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi Jateng yang terus menurun, dari 6,3% (2012) dan 6,2% (triwulan II-2013) menjadi 5,9% (triwulan III) dan 5,6% (triwulan IV) pada 2013 ,dan 5,3% (triwulan I) dan 5,2% (triwulan II) pada 2014. Padahal Kajian Ekonomi Regional (KER) Jateng yang dipublikasikan BI memperlihatkan tren peningkatan kinerja perekonomian Jateng 2010, dan kemudian terlihat menurun pada triwulan II-2013.

Hasil analisis PDRB secara sektoral menujukkan kememburukan kinerja ekonomi Jateng dalam setahun terakhir disebabkan penurunan signifikan kinerja sektor pertanian, terutama tahun 2014. Bahkan, pada triwulan II-2014, tingkat pertumbuhan sektor pertanian hanya 0,05% atau terburuk dalam 5 tahun terakhir.

Memburuknya kinerja perekonomian juga tercermin dalam laju inflasi. Dalam setahun terakhir, inflasi Jateng mencapai di atas 7%, jauh lebih tinggi dibanding periode-periode sebelumnya. Kememburukan kinerja perekonomian Jateng setahun terakhir juga berdampak negatif terhadap kinerja sosial, terutama peningkatan jumlah penduduk miskin di kota dan desa. Data BPS Jateng Maret 2014 menyebutkan jumlah penduduk miskin meningkat 2,81% dibanding September 2013 atau naik 2,15% dibanding bulan yang sama tahun 2013.

Saya tak sepemikiran dengan sejumlah pihak yang menduga hal itu dipicu oleh makin meningkatnya garis kemiskinan (4,27%). Saya meyakini kenaikan jumlah penduduk miskin dari 4,705 juta orang (September 2013) menjadi 4,837 juta orang (Maret 2014) lebih disebabkan oleh memburuknya kinerja perekonomian, terutama sektor pertanian sebagai basis kehidupan mayoritas masyarakat Jateng.

Mengganggu Konsentrasi

Selain meningkatkan jumlah kemiskinan, memburuknya kinerja perekonomian berdampak negatif terhadap kesenjangan ekonomi antarkelompok masyarakat. Laporan BPS Pusat menunjukkan indeks koefisien Gini/IKG Jateng terus meningkat dari 0,32 (2009) menjadi 0,387 (2013) dan 0,40 (2014). Untuk peningkatan rasio Gini tahun 2009-2013, masih bisa dimaklumi karena pertumbahan ekonomi Jateng selama periode tersebut memang terus meningkat. Biasanya peningkatan IKG akan berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi.

Namun untuk peningkatan rasio Gini/IKG pada 2014, rasanya sulit dimengerti karena kinerja pertumbuhan ekonominya menurun. Kememburukan kinerja perekonomian Jateng selama setahun terakhir memang tidak sepenuhnya merefleksikan kekurangmampuan, atau bahkan kegagalan Gagah memimpin pemerintahan.

Masih ada waktu empat tahun lagi untuk membenahi. Namun, saya berpendapat bahwa belum fokusnya konsentrasi Ganjar dalam memimpin pemerintahan dan mengelola seluruh sumber daya potensial dalam setahun terakhir juga menjadi penyebab melambatnya kinerja ekonomi dan meningkatnya jumlah penduduk miskin.

Dalam setahun terakhir, dia terlihat lebih sering tampil mendampingi ketua kmum PDIP dalam berbagai acara di Jakarta dan mengurusi partai. Termasuk ’’disibukkan’’ menjadi jurkam PDIPdalam pileg dan menjadi salah satu petinggi tim sukses Jokowi-JK. Tentu waktu, pikiran, tenaga ,dan energinya bisa tersita untuk mengurusi halhal tersebut mengingat ia juga harus mengurusi Jateng. Realitas itu pasti mengganggu konsentrasi, kemampuan, dan kinerjanya dalam memimpin Jateng yang sangat kompleks permasalahan.

Belum fokusnya konsentrasi pikiran dan waktu Gubernur dalam mengurusi pemerintahan Jateng juga dikeluhkan oleh sejumlah pejabat teras provinsi. Berbagai keluhan atau curhat itu hendaknya direspons secara bijak dan menjadi bahan introspeksi untuk segera berbenah diri. Nuansa yang dirasakan dan dikeluhkan oleh sejumlah pejabat, juga dicermati oleh publik. Sebagian masyarakat menangkap kesan bahwa Gubernur belum fokus dan belum serius mengurusi Jateng.

Ia berkesan masih berwacana, mengurusi partai, dan melakukan aksi-aksi pencitraan yang menarik pemberitaan media massa. Akibatnya, kinerja pemerintahan dan urusan pembangunan Jateng agak keteteran. Ke depan, saya dan rakyat Jateng sangat mengharapkan Ganjar bisa lebih fokus lagi mengurusi Jateng agar kinerja ekonomi dan sosial kembali membaik. Bagaimanapun persoalan-persoalan pembangunan yang melilit Jateng saat ini dan ke depan makin kompleks dan serius sehingga sangat membutuhkan perhatian utama dan konsentrasi kepemimpinannya.

Jangan sampai publik kecewa, marah, dan apatis gara-gara menganggap pemimpin daerahnya kurang fokus, atau bahkan belum berhasil membawa perubahan segera Jateng ke arah yang lebih baik, seperti dijanjikan dalam pilgub pada Mei 2013. Masih ada waktu untuk berbenah namun waktu 4 tahun juga relatif pendek. (10)

— Andreas Lako, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Kepala LPPM Unika Soegijapranata Semarang

 

Kategori: