SOEGIJA DAN KELUARGA
Sabtu, 24 Mei 2014 | 10:48 WIB

 

Dalam Surat Gembala Prapaskah, 6 Februari 1956, Vikaris Apostolik Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (1896-1963) menyerukan pentingnya keluarga mendidik anak-anak dengan semangat kekatolikan dan nasionalisme. “Para Bapak dan Ibu, didiklah anak-anakmu dengan cara Katolik dan nasional, agar senantiasa berkembang dalam kerohanian dan jasmaninya seraya memperhatikan agama dan bangsanya.”

Amanat ini masih relevan bagi kita di zaman ini, apalagi pada 2014 ini kita menghelat Pemilu Legeslatif (9/4) dan Pemilu Presiden (9/7). Konferensi Waligereja Indonesia mendorong agar setiap orang yang berhak memilih untuk ikut aktif memberikan suara. Pemilu dipandang sebagai peristiwa penting dan strategis guna memilih para pemimpin bangsa dan wakil rakyat. Dengan ikut memilih, kita terlibat menentukan arah perjalanan bangsa ke depan.

 

Kekatolikan dan Nasionalisme

Mgr. Soegija hidup dan berkarya di tengah situasi lahirnya generasi pertama keluarga Katolik di Indonesia. Kala itu, masyarakat sedang berada dalam situasi memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, umat Katolik diajak ikut terlibat dalam perjuangan bangsa.

Dalam usaha meneguhkan keterlibatan itu, Mgr. Soegija melontarkan semboyan: “100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia”. Ia sebenarnya menggunakan kata ‘patriot’ untuk menunjukkan semangat nasionalisme. Hal ini dapat dilihat dari Surat Gembala Ulang Tahun 12,5 tahun Tahbisan Uskup, 9 Februari 1953. “Jika kita benar-benar Katolik sejati sekaligus kita juga patriot sejati, karenanya kita adalah 100% patriot, karena kita adalah 100% Katolik”. Ungkapan ini mengajak umat Katolik untuk mengintegrasikan kekatolikan dan nasionalisme.

Mgr. Soegija mengajak orang Katolik untuk tidak sekedar devotif di seputar liturgi, melainkan harus terlibat dalam masyarakat. Pada tahun 1946, pusat pemerintahan negara ini berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Mgr. Soegija pun berpindah dan tinggal di Yogyakarta (1946-1949). Inilah bukti dan amanat yang menunjukkan ke arah mana Gereja berpihak: menyatu dengan perjuangan bangsa.

Diplomasinya untuk perjuangan kemerdekaan dan mencari pengakuan internasional diwujudkan dengan rajin menulis di media Amerika dan Belanda. Perjuangannya melalui silent diplomacy ini berhasil mengintegrasikan Gereja dalam ke-Indonesia-an sejak awal (HIDUP, No. 48, 27 November 2011, hal. 12).

Uskup kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 25 November 1896 ini pun memberi landasan moral sosial dan teologis bagi pengintegrasian itu. Dalam Surat Gembala Prapaskah, 6 Februari 1956, ditegaskan: “Bukankah menurut perintah ke-4 dari ke-10 Perintah Allah –sebagaimana ada dalam Katekismus– kita wajib mencintai Gereja kudus, juga kita wajib mencintai Negara, dengan seluruh hati kita. Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”.

 

Keluarga Perjamuan

Dewasa ini, kehidupan keluarga menghadapi tantangan yang kian kompleks. Keluarga Kristiani dipanggil untuk menghayati model Keluarga Nazareth, yakni ‘keluarga perjamuan’. Model ini diwarnai suasana persaudaraan, saling melayani, dan memperhatikan. Disinyalir, saat ini ada beberapa model keluarga yang perlu diwaspadai, seperti ‘keluarga hotel’ yang tidak saling mengenal meski tinggal dalam satu atap, ‘keluarga makelar’ yang menjadikan untung rugi sebagai tujuan, ‘keluarga lapangan pertandingan’ yang otoriter dan menang-kalah, ‘keluarga judi yang saling menghancurkan, dan ‘keluarga kuburan’ yang terlihat baik di luar tapi penuh kebusukan di dalamnya.

Menyikapi tantangan ini, kita bisa merenungkan kembali ajakan Mgr. Soegija pada malam Pembukaan Kongres Pemuda Katolik Seluruh Indonesia:“Semoga dari rumah-tangga Katolik, jang betul-betul merupakan sumber hidup, sumber pendidikan, sumber kebahagiaan dan penghibur, menjumbangkan anak-anaknya sebagai pemimpin-pemimpin dan tenaga-tenaga putera dan puteri, jang mampu membimbing golongannja mendjadi golongan jang boleh dibanggakan oleh bangsa Indonesia, dalam kedudukannja baik sebagai tokoh rohaniwan atau rohaniwati, maupun sebagai tokoh awami jang sedjati”. *

RD. Y. Gunawan

Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata dan

Anggota The Soegijapranata Institute

 

Kategori: ,