Seperti Menonton Film
Senin, 24 Februari 2014 | 8:57 WIB

Tidak semua orang menikmati belajarsejarah. Menghafal angka tahun dan peristiwatanpa memahami sungguh-sungguhpasti bakal bikin pelajaran Sejarah terasaberat. Tapi, Pak Tjahjono Rahardjo meyakinkanbahwa belajar sejarah bukan sesuatu yang membosankan.

Beberapa waktu lalu, Tim Warior berkesempatanberkenalan dan mewawancarai Pak Tjahjono. Dengan bersemangat, beliau berbicara banyak haltentang sejarah. Apa saja yang beliau ungkapkan,yuk kita simak.

Apa kesibukan Bapak sekarang?

Sebenarnya saya tidak sibuk-sibuk amat. Hanya,saya sekarang menjadi pengajar di UniversitasKatolik Soegijapranata, Semarang. Selain itu, sayamenjadi salah satu pengurus di gedung cagarbudaya Sobokartti dan menjadi tim ahli cagar budayaKota Semarang. Oh iya, satu lagi, saya juga anggotadari IRPS, yaitu perkumpulan orang-orang pencintakereta api.

Apa cita-cita Bapak di waktu kecil?

Cita-cita saya sewaktu kecil berganti-ganti. Dulusekali, saya pengin menjadi seorang masinis. Itukarena saya dulutinggal di dekat stasiun Lempuyangan Yogyakarta.Saya pernah juga pengin menjadi dalang. Semakinbesar, cita-cita saya ganti lagi. Melihat tetangga yangmenjadi arsitek, saya juga pengin menjadi arsitek.Lalu saya sekolah mengambil Jurusan Arsitektur.

Kenapa Bapak menyukai sejarah?

Kita, Bangsa Indonesia itu adalah bangsa yangtidak kenal sejarah. Kita tidak kenal siapa diri kita.Orang harus tahu dari mana dirinya dan akan menujuke mana. Nah, sejarah bisa menunjukkan banyak halkepada kita tentang masa lalu. Di dalam bangunanbersejarah misalnya, ada bukti atau saksi kejadianberpuluh-puluh tahun yang lalu.

Bangunan bersejarah mana yang paling berkesanbagi Bapak?

Bangunan bersejarah paling berkesan bagi saya,ya gedung kesenian Sobokartti. Saat saya menjadipengurusnya, saya bisa mengenal lebih dekat tentangcerita-cerita di balik gedung itu. Bentuk gedungtersebut merupakan perpaduan antara corak Jawadan Belanda. Gedung itu dibangun di awaldemokrasi kebudayaan seni dan budaya Jawa.Contohnya, zamandulu tarian Jawa hanya bisa dipentaskan di lingkungankerajaan dan tentu saja ditonton oleh raja dankeluarganya. Nah, pada zaman Gedung Sobokarttidibangun, tarian itu boleh dipentaskan di sana.Rakyat jelata boleh menontonnya. Di dalamnya adatempat duduk (tribun). Tempat duduk bagian atasuntuk rakyat biasa, sedangkan bagian bawah adalahtempat duduk VIP. Arsiteknya adalah orang Belandabernama Ir Herman Thomas Karsten. Dia mendesainruangan seperti itu karena tidak suka jika melihat rakyatjelata dipinggirkan.

Apa perbedaan bangunan zaman dahulu denganzaman sekarang?

Perbedaannya banyak sekali. Zaman dulu,bahan material belum bervariasi seperti sekarang ini.Cat tembok misalnya. Bangunan zaman dahuluwarna tembok selalu putih, karena pewarnaannyamenggunakan kapur. Kalau sekarang, beragam warnacat tembok bisa kita pilih sesuai dengan selera.Contoh lain, bangunan zaman dahulu, tanpa ACsudah terasa sejuk karena pergantian udara sudahdipikirkan baik-baik oleh si arsitek. Kalau sekarang,udara di dalam ruangan terasa panas, ya bisa langsungpasang AC. Ya, kebanyakan bangunan zamandahulu itu lebih ramah lingkungan.

Bagaimana caranya belajar sejarah biar tidakmembosankan?

Untuk anak-anak, Pelajaran Sejarah pasti membosankan,kan? Mengingat angka tahun dan namaorang yang banyak sekali itu sulit. Menurut saya,lebih baik kalian memahami ceritanya terlebih dulu.Cerita zaman dahulu itu menarik, lo. Misalnya belajartentang Perang Diponegoro. Jangan hanya mengingat-ingat tahunnya, nanti mudah lupa. Kalian harusselidiki, hal apa yang menyebabkan terjadinyaperang, siapa saja yang terlibat, perang dimenangkanoleh pihak mana, dan lain-lain. Menyimaksejarah itu seperti menonton film, seru. Kalau angkatahun, kalian bisa cari di internet. Jangan malasmembaca buku-buku sejarah. Selain buku pelajaran,buku sejarah yang lain banyak sekali. Kalian bisamenemukan di perpustakaan atau di toko buku.(75)

Kategori: